Kontak · ngobrol langsung sama orangnya

Kumendan itu orang beneran. Namanya Riyeke Ustadiyanto — dan dia lebih nyaman ditanya lewat DM daripada dipanggil “Pak”.

Web app ini cara merancang AI untuk bisnisdari NOL → 10bukan NOL → 1

Kalau rencana AI-mu udah jadi selembar dan masih ada yang ganjel, kirim aja. Nggak perlu bahasa resmi, nggak perlu janji temu. Satu pertanyaan yang jelas lebih cepat dibalas daripada sepuluh yang panjang.

Buku ditulis 2001, dibaca sampai sekarang.Sekarang jawabnya lewat DM — satu pertanyaan, satu jawaban.
Riyeke Ustadiyanto — Kumendan, berdiri santai dengan latar gunung
Riyeke Ustadiyanto. Lebih sering di teras daripada di panggung.
Siapa dia, singkat aja

Nulis buku dari 2001, tapi kalau ditanya “profesinya apa?” jawabnya masih “ya… gini-gini aja”.

Tahun 2001, waktu internet di Indonesia masih bunyi “ngiiik-kreeek” lewat telepon rumah, dia udah nulis buku tentang cara berjualan lewat internet. Judulnya Framework e-Commerce. Disusul Business Plan dan Internet Marketing. Waktu itu banyak yang nanya, “Emang ada yang beli lewat komputer?” Sekarang pertanyaan itu udah nggak ada yang nanya lagi.

Buku-buku itu pelan-pelan jadi bacaan wajib di kampus. Puluhan ribu mahasiswa ekonomi dan bisnis digital — S1, S2, sampai S3 — pernah ngutip, ngerangkum, atau begadang gara-gara bukunya. Dia sendiri lebih suka nyebut itu sebagai “kebetulan yang panjang.”

Setelah itu dia lebih banyak di lapangan: bikin usaha, jatuh, bangun, bikin lagi. Dari pengalaman jatuh-bangun itulah lahir kebiasaan yang sekarang dipakai Kumendan: bilang “jangan itu dulu” waktu orang mau loncat langkah. Bukan karena pintar, tapi karena udah pernah nabrak tembok yang sama.

Nggak ada gelar di halaman ini bukan karena nggak punya. Karena kalau kamu tanya soal usahamu, yang ngebantu bukan gelarnya.

Tiga buku, satu benang merah

Yang ditulis 2001 ternyata masih kepakai buat rancang AI 2026: rencana dulu, alat belakangan.

2001

Framework e-Commerce

Cara berjualan lewat internet dijelaskan dari nol, waktu “toko online” masih kedengeran kayak fiksi ilmiah. Intinya sampai sekarang sama: kenali dulu pembelimu, baru pilih alatnya.

Awal 2000-an

Business Plan

Selembar rencana sebelum keluar uang. Kalau kamu perhatikan, “selembar rencana 8 kolom” di alat ini itu cucunya buku ini — cuma sekarang yang dirancang AI, bukan toko.

Awal 2000-an

Internet Marketing

Cari pelanggan lewat internet tanpa nembak asal-asalan. Ukur, perbaiki, ulangi. Kebiasaan “ukur dulu” itu yang sekarang jadi kolom ke-8 di rencanamu.

Dipakai sebagai referensi oleh puluhan ribu mahasiswa S1, S2, dan S3 ekonomi & bisnis digital di berbagai kampus. Kalau kamu salah satunya dan dulu sempat kesel gara-gara tugas, sekarang saatnya balas dendam: kirim pertanyaan yang susah.

Diskusi & belajar bareng

Satu pintu aja: DM Instagram @kumendan

Bukan pintu VIP, bukan kelas berbayar. Cuma DM biasa yang dibaca orang biasa, di sela ngopi. Kalau pertanyaannya bagus, jawabannya kadang dijadikan bahan buat halaman alat ini — jadi kamu ikut bantu orang lain juga.

💬 Kirim DM ke @kumendan ↗

Dibuka di aplikasi Instagram. Kalau belum follow, follow dulu biar DM-nya nggak nyangkut di “permintaan pesan”.

Biar cepat dibalas, kirim ini:
  1. 1
    Selembar rencanamu. Screenshot hasil dari halaman Rancanganku — jadi nggak perlu cerita dari awal.
  2. 2
    Satu bagian yang ganjel. “Kolom penjaga-nya siapa ya?” lebih gampang dibalas daripada “gimana menurut Bapak?”
  3. 3
    Angka seadanya. Berapa orang, berapa pesanan sehari, berapa jam kebuang. Kira-kira boleh, yang penting jujur.
Yang nggak akan kamu dapat:
  • Jawaban dalam 5 menit. Dia manusia, dan sering di jalan.
  • Rekomendasi merek alat. Yang dibahas pekerjaannya, bukan mereknya.
  • Ramalan. Rencana, bukan ramalan — sama kayak di alat ini.
Belum punya selembar rencana? Rancang duluTentang alat ini