FORMULA 01
Target Harian — berpikir mundur
Omzet per hari = Target omzet sebulan ÷ hari buka
Pembeli per hari = Omzet per hari ÷ rata-rata belanja (AOV)
Rumus paling dasar dan paling sering dilewati. Target Rp 60 juta terasa menakutkan; begitu dibagi, ternyata cuma soal berapa orang yang harus mampir hari ini.
Contoh: Target Rp 60.000.000 ÷ 26 hari buka = Rp 2.307.000/hari. Dibagi AOV Rp 35.000 = 66 pembeli/hari ≈ 7 orang tiap jam buka.
🧮 Hitung target harianmu →
FORMULA 02
HPP / Food Cost & harga jual
Food cost % = (biaya bahan per porsi ÷ harga jual) × 100
Harga jual = biaya bahan per porsi ÷ target food cost %
Biaya bahan adalah tuas untung nomor satu. Banyak pemilik warung menetapkan harga dari “harga tetangga”, bukan dari biayanya sendiri — di situ untung mulai bocor.
Contoh: Bahan Rp 12.000, harga jual Rp 35.000 → food cost 34%. Kalau ingin food cost 30%: harga jual = 12.000 ÷ 0,30 = Rp 40.000. Rentang 25–35% umum dipakai pelaku F&B — bukan patokan mutlak, tergantung jenis usaha.
🧮 Hitung HPP & harga menu →
FORMULA 03
BEP Harian — titik impas
Margin kontribusi % = 100% − food cost % − biaya variabel lain %
BEP per bulan = biaya tetap ÷ margin kontribusi %
BEP per hari = BEP per bulan ÷ hari buka
BEP menjawab satu pertanyaan menenangkan: “sehari minimal jual berapa supaya tidak nombok?” Di bawah angka itu kamu rugi; di atasnya baru untung.
Contoh: Biaya tetap Rp 25.000.000/bulan, margin kontribusi 60% → BEP Rp 41.700.000/bulan ÷ 26 hari = Rp 1.600.000/hari.
🧮 Hitung BEP harianmu →
FORMULA 04
Balik Modal (payback period)
Laba bersih per bulan = omzet − (biaya bahan + biaya tetap + biaya lain)
Payback (bulan) = modal awal ÷ laba bersih per bulan
Angka yang bikin keputusan sewa, renovasi, dan beli alat jadi masuk akal. Kalau paybacknya lebih lama dari sisa masa sewa, itu lampu kuning.
Contoh: Modal Rp 180.000.000, laba bersih Rp 15.000.000/bulan → balik modal ≈ 12 bulan. Naikkan laba jadi Rp 20 juta → 9 bulan.
🧮 Hitung balik modalmu →
FORMULA 05
AOV — rata-rata belanja per orang
AOV = total omzet ÷ jumlah transaksi
Omzet baru = jumlah pembeli × AOV baru
Menaikkan AOV hampir selalu lebih murah daripada mencari pembeli baru. Tambahan Rp 5.000 per orang setara dengan puluhan pembeli tambahan — tanpa biaya iklan.
Contoh: 66 pembeli × Rp 35.000 = Rp 2.310.000. AOV naik Rp 5.000 → 66 × Rp 40.000 = Rp 2.640.000 (+Rp 330.000/hari) dari jumlah pembeli yang sama.
🧮 Hitung efek naik AOV →
FORMULA 06
Labor Cost — porsi gaji terhadap omzet
Labor cost % = total biaya tenaga kerja ÷ omzet × 100
Omzet per karyawan = omzet ÷ jumlah karyawan
Tim yang terlalu gemuk memakan untung diam-diam. Yang dibenahi biasanya bukan jumlah orangnya, tapi jadwal shift-nya — apakah orang terbanyak ada di jam paling ramai.
Contoh: Gaji Rp 18.000.000 dengan omzet Rp 60.000.000 → labor cost 30%. Banyak pelaku F&B menjaga di kisaran 20–30%; angka sehatnya beda-beda per model usaha.
🧮 Hitung biaya SDM & shift →
FORMULA 07
Menu Engineering — untung per menu
Kontribusi per porsi = harga jual − biaya bahan
Kontribusi bulanan = kontribusi per porsi × porsi terjual
Peta menu = kontribusi × jumlah terjual
Best seller belum tentu best profit. Menu paling laku bisa jadi menu paling tipis untungnya — dan menu yang untungnya besar sering tersembunyi di halaman belakang.
Contoh: Menu A: kontribusi Rp 8.000 × 900 porsi = Rp 7,2 juta. Menu B: Rp 22.000 × 320 porsi = Rp 7,04 juta — hampir sama, padahal A terlihat “jauh lebih laku”.
🧮 Petakan portofolio menumu →
Berapa food cost yang ideal untuk bisnis kuliner?
Banyak pelaku F&B menjaga food cost di kisaran 25–35% dari harga jual, tetapi angka sehatnya berbeda per model usaha — kopi kekinian, warung nasi, dan katering punya struktur biaya yang tidak sama. Yang lebih penting: hitung angka aslimu, lalu bandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya, bukan dengan patokan orang lain.
Bagaimana cara menghitung BEP usaha kuliner?
Hitung margin kontribusi dulu (100% dikurangi food cost dan biaya variabel lain), lalu bagi total biaya tetap sebulan dengan margin itu. Hasilnya omzet impas per bulan; dibagi jumlah hari buka jadi BEP harian — target minimum supaya tidak nombok.
Berapa lama usaha kuliner biasanya balik modal?
Tidak ada angka pasti, karena bergantung modal awal dan laba bersih bulananmu. Rumusnya sederhana: modal awal ÷ laba bersih per bulan. Yang bisa dipercepat bukan keajaiban, tapi dua hal: menaikkan laba bersih atau menekan modal awal yang belum perlu.
Mana yang lebih cepat menaikkan omzet: cari pembeli baru atau naikkan AOV?
Umumnya menaikkan rata-rata belanja lebih cepat dan lebih murah, karena kamu bekerja pada orang yang sudah ada di depanmu — lewat paket, tambahan, atau susunan menu. Mencari pembeli baru tetap perlu, tapi biayanya lebih besar.
Apakah angka dari kalkulator ini jaminan?
Tidak. Semua hasil di sini adalah estimasi, bukan janji. Akurasinya bergantung pada angka yang kamu masukkan — kalau datanya kira-kira, hasilnya juga kira-kira.